Kalau ditanya apa yang paling sering bikin pasangan baru bertengkar, jawabannya jarang soal cinta yang luntur. Lebih sering soal uang. Bukan karena penghasilannya kurang, tapi karena cara masing masing memperlakukan uang belum pernah dibicarakan dan belum pernah disamakan.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu jadi ahli keuangan untuk menghindarinya. Yang dibutuhkan hanya beberapa kebiasaan kecil yang dimulai sebelum hari pernikahan, selagi belum ada tekanan cicilan, tagihan rumah, dan kebutuhan anak. Berikut kebiasaan yang menurut banyak pasangan paling terasa manfaatnya.
Ini kebiasaan paling awal dan sering paling canggung. Sebelum menikah, saling terbukalah soal penghasilan, tabungan, utang, cicilan, dan tanggungan keluarga. Tidak harus sampai angka terkecil di hari pertama, tapi gambaran besarnya perlu jelas.
Banyak pasangan baru tahu ada cicilan atau pinjaman setelah menikah, lalu merasa dibohongi. Padahal masalahnya bukan di besarnya utang, melainkan di rasa tidak dipercaya. Kalau semuanya sudah diketahui dari awal, utang sebesar apa pun bisa direncanakan cara melunasinya bersama.
Cara memulainya bisa sederhana. Pilih waktu santai, misalnya sambil makan malam, lalu masing masing menuliskan penghasilan bulanan, daftar utang, dan tabungan yang dimiliki. Tidak perlu ada yang menghakimi. Tujuannya hanya sama sama tahu titik awalnya.
Kebiasaan ini terdengar membosankan, tapi efeknya besar. Catat setiap pengeluaran selama satu sampai tiga bulan sebelum menikah. Kamu akan kaget melihat ke mana uang sebenarnya pergi. Biasanya bukan ke barang mahal, tapi ke pengeluaran kecil yang berulang seperti kopi, ongkos kirim, langganan aplikasi, dan jajan online.
Kamu bisa memakai aplikasi pencatat keuangan, spreadsheet sederhana, atau buku catatan biasa. Alat yang dipakai tidak penting. Yang penting konsisten. Catatan ini nanti jadi bahan utama untuk menyusun anggaran rumah tangga, karena kamu sudah tahu pola belanjamu sendiri, bukan sekadar menebak.
Sebelum menikah, coba simulasikan anggaran bulanan seolah olah sudah berumah tangga. Masukkan pos pos seperti sewa atau cicilan rumah, listrik dan air, internet, makan, transportasi, tabungan, dana darurat, dan uang untuk keluarga besar.
Salah satu pola yang sering dipakai adalah membagi penghasilan menjadi tiga bagian. Sekitar lima puluh persen untuk kebutuhan pokok, tiga puluh persen untuk keinginan, dan dua puluh persen untuk tabungan serta pelunasan utang. Angkanya tidak harus kaku. Kalau biaya hidup di kotamu tinggi, porsi kebutuhan pokok bisa lebih besar. Yang penting kamu punya kerangka yang jelas.
Setelah menyusunnya, jalani satu atau dua bulan. Dari situ kelihatan mana pos yang terlalu kecil dan mana yang terlalu longgar, jadi kamu bisa menyesuaikannya sebelum benar benar tinggal serumah.
Ada banyak model pengelolaan keuangan pasangan, dan tidak ada yang paling benar. Ada yang menggabungkan semua penghasilan dalam satu rekening. Ada yang tetap terpisah lalu patungan untuk kebutuhan bersama. Ada juga yang memakai model campuran, yaitu satu rekening bersama untuk pengeluaran rumah tangga dan rekening pribadi untuk keperluan masing masing.
Yang penting adalah kalian berdua sepakat dan merasa adil. Bicarakan juga soal uang pribadi. Setiap orang tetap butuh ruang untuk membeli sesuatu tanpa harus izin atau menjelaskan, selama jumlahnya masih wajar dan sudah disepakati batasnya. Aturan seperti ini mencegah rasa diawasi dan mencegah rasa tidak dihargai.
Cobalah model pilihan kalian selama beberapa bulan sebelum menikah. Kalau terasa tidak nyaman, ganti sebelum jadi kebiasaan yang sulit diubah.
Banyak orang fokus menabung untuk pesta, padahal dana darurat sama pentingnya. Dana darurat adalah uang yang disiapkan untuk kejadian tak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kerusakan rumah dan kendaraan.
Targetnya idealnya tiga sampai enam bulan pengeluaran rumah tangga. Untuk pasangan yang baru mulai, bahkan satu bulan pengeluaran sudah sangat membantu. Simpan di tempat yang mudah dicairkan tapi tidak mudah tergoda untuk dipakai, misalnya rekening terpisah yang tidak terhubung ke dompet digital.
Kebiasaan menyisihkan uang di awal bulan, bukan di akhir bulan, juga penting. Begitu gaji masuk, langsung pindahkan sebagian ke dana darurat. Sisanya baru dipakai untuk kebutuhan lain. Cara ini jauh lebih berhasil daripada menunggu uang sisa, karena uang sisa sering tidak ada.
Ini kebiasaan yang paling berkaitan langsung dengan hari H. Tentukan batas anggaran pernikahan sejak awal, lalu patuhi. Pernikahan yang meriah memang indah, tapi memulai rumah tangga dengan utang besar sering jadi beban yang terasa bertahun tahun.
Beberapa langkah yang bisa membantu:
Ingat, yang diingat tamu hanya sebentar. Yang kalian jalani setelahnya adalah kehidupan sehari hari.
Banyak dari kita menikah sambil tetap memiliki tanggung jawab pada orang tua atau saudara. Itu hal yang baik, tapi perlu dibicarakan terbuka. Berapa yang rutin dikirim tiap bulan? Apakah pasangan setuju? Bagaimana kalau ada kebutuhan mendadak dari keluarga salah satu pihak?
Bahas juga tujuan jangka panjang. Mau membeli rumah atau mengontrak dulu? Kapan ingin punya anak? Apakah ada rencana melanjutkan sekolah atau membuka usaha? Mimpi yang berbeda bukan masalah, selama kalian tahu dan mencari jalan tengahnya. Yang berbahaya adalah ketika masing masing menyimpan rencana besar sendiri lalu terkejut di tengah jalan.
Kebiasaan terakhir ini yang membuat semua kebiasaan sebelumnya bertahan. Sediakan waktu sebulan sekali, cukup tiga puluh menit, untuk membahas keuangan berdua. Lihat pengeluaran bulan lalu, cek apakah tabungan sesuai target, dan bicarakan rencana bulan depan.
Buat suasananya santai, jangan seperti sidang. Mulai dari hal yang berjalan baik, baru lanjut ke yang perlu diperbaiki. Pertemuan kecil seperti ini mencegah masalah menumpuk dan melatih kalian berdua terbiasa membicarakan uang tanpa emosi.
Kebiasaan keuangan yang baik tidak lahir dari penghasilan besar, tapi dari keterbukaan, konsistensi, dan kesepakatan. Delapan kebiasaan di atas bisa dimulai hari ini, bahkan dengan langkah paling kecil. Mulai dari mencatat pengeluaran minggu ini, lalu mengajak pasangan ngobrol soal uang dengan santai.
Pernikahan akan membawa banyak kejutan, dan tidak semuanya bisa diatur. Tapi urusan uang adalah salah satu hal yang bisa kalian persiapkan bersama sejak sekarang, supaya rumah tangga dimulai dengan tenang.